17 Juli 2008

Sekarang aku tahu, kenapa Islam tidak mewajibkan wanita untuk bekerja

Dulu, aku sempat merasa nelangsa, karena tidak bekerja setelah lulus kuliah.
Aku merasa hampa, karena hanya diam di rumah, mengerjakan urusan rumah tangga, membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak, mengurus anak, menunggu suami pulang bekerja.
Aku merasa potensiku terbuang sia-sia.
Padahal aku kuliah di fakultas kedokteran yang banyak orang menginginkannya.

Sampai datang kesempatan aku bekerja sebagai dosen.
Sebenarnya menyenangkan, dengan waktu kerja yang tidak terlalu panjang.
Bahkan aku mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2.
Namun aku merasa tidak cukup.
Aku ingin meraih sesuatu yang lebih lagi. Aku pun menjadi Pegawai Negeri.

Semakin lama pekerjaan sebagai pegawai negeri semakin mencuri waktuku.
Mulai dari mengejar apel pagi-pagi sampai berbagai pekerjaan yang sangat menyita waktu dan fikiran.
Pulang ke rumah, yang tersisa adalah lelah.
Anak-anak yang menuntut perhatian malah mendapat amarah

Belum lagi tumpukan rasa bersalah.
Bayi yang terpaksa disapih sebelum waktunya.
Berbagai momen istimewa
yang terpaksa kulewatkan dengan sia-sia
Hari pertama anakku sekolah
Saat anak-anak mendapat hadiah
Kemana bundanya??

Hampir setiap hari
Kudengar si bungsu berkata
”Bunda, jangan’ office’ ya?”
Apakah permintaan itu
Cerminan dari rasa tidak ’aman’ nya?
Karena tidak ada bunda yang menemaninya??

Apa yang ku cari dengan bekerja?
Aktualisasi diri?
Sementara sekarang aku yakin
Aku bisa mengaktualisasikan diri
Tanpa harus bekerja dari pagi hingga sore hari??






Alhamdulillah, kesadaran ini muncul
Setelah aku melewati berbagai fase kehidupan
Sekarang aku mengerti
Di mana seorang wanita mendapatkan
Kebahagiaannya yang hakiki

Bukan pada pekerjaan
Bukan pada kekayaan
Bukan pada jabatan
Bukan juga pada segala sanjungan

Namun karena kembali kepada kodratnya
Untuk memberikan rasa aman dan kasih sayang
Pada keluarga..................

Berikan aku kekuatan
Untuk mengatakan pada dunia
Bahwa sekarang aku mengerti
Kenapa Islam tidak mewajibkan wanita untuk bekerja
Karena Islam telah mengetahui
Di mana kodrat seorang wanita
dan aku........
ingin kembali berlari
meraih apa yang selama ini
aku tinggalkan...............

Aku ingin mendampingi anak-anakku.
di setiap fase kehidupan mereka...
aku ingin kembali ke istanaku
di rumah yang telah kehilangan ratunya....

Bismillah....
tolong mudahkan langkahku
untuk kembali
........................................
.......................................


Cimahi, 16 Juli 200

3 komentar:

Uyah nDonya mengatakan...

Halo bu Yuli, salam kenal....
Saya salut dengan "permenungan" ibu ttg hakikat wanita. Saya juga dokter, sejak menikah saya sudah komitmen untuk berkarya dalam rumah tangga, berusaha untuk selalu ada di rumah saat suami dan anak pulang. Dan sudah saya mulai sejak saya menikah. Bekerja sebisa mungkin yang tidak mengganggu jadwal di rumah.
Semoga keluarga ibu selalu rukun dan harmonis.
Sepertinya saya bisa belajar banyak dari ibu.
Salam...
Rosa

Didik sugiarto mengatakan...

artikel bagus bu...akan aku kasih tahu ke istriku biar baca nih artikel...biar tambah semangat mendidik anak.....salam kenal ya bu Yuli.

Yuli Ramunda Yasik mengatakan...

Terima kasih bu Uyah dan pak Didik atas 'sharing' nya...