14 Juli 2008

DYLAN MAU SEKOLAH


Dylan Mau Sekolah

Sudah seminggu ini Dylan bikin heboh pagi-pagi. Entah dapat ide dari mana, dia pingin ikut kakaknya sekolah, padahal umurnya baru 2 tahun 7 bulan. Kakak-kakaknya 'take shower' (mandi), dia ikutan. Lalu minta dipakaikan baju sama bunda. Setelah rapi, dia sibuk mencari 'cok'(socks/kaus kaki), kadang-kadang satu biru, satu putih, setelah itu dia sibuk minta dipakaikan 'cus' (shoes/ sepatu) dan menyelempangkan 'bag' /tas di leher, lalu menunggu mobil jemputan sekolah di teras. 'Dylan mau tukul, ayah', katanya.
Ayah bingung, 'Tukul? Tukul Arwana?'Ayah malah ingat dengan presenter acara televisi yang ndeso itu.
'Maksudnya school, ayah,' jelas bunda.
Dylan sejak kecil memang sudah diajak bicara bilingual, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, jadi ngomongnya campur-campur. Lucu.
'Boleh school, if you have been a big boy ya,' kata Ayah.
Dylan tetap ngotot, pokoknya dia mau sekolah. Akhirnya terjadilah pertumpahan air mata, karena bus sekolah hanya mengangkut kak Diaz dan kak Diar. Dia menangis, sambil mengejar-ngejar bus sekolah. Mbak Yanti terpaksa harus menyeretnya pulang. Dan kejadian ini berulang setiap pagi. Bukan itu saja, dia juga memaksa ikut ayah ke kantor.
'Ayah mau 'office', kata Ayah.
'Dylan juga mau 'office', dia tidak mau kalah.
'Iya, boleh, kalau sudah besar,' Ayah berusaha menjelaskan.
'No, ayah, Dylan mau 'office' cekalang!' Dylan memang rada keras kepala. Apa karena dia anak bungsu ya?
Dan dia kembali ngamuk karena ditinggal ayah. Saat bunda berangkat ke kantor, kejadian yang sama berulang. Mbak Yanti sampai kewalahan. Nangisnya lebih dari sejam, lapor mbak Yanti sore harinya.
Bunda akhirnya mencari sekolah buat Dylan. Ayah pada awalnya tidak setuju, karena beranggapan Dylan masih terlalu kecil untuk sekolah, dia lebih aman di rumah sama mbak Yanti. Lagipula kakak-kakaknya mulai sekolah umur 4 tahun, masuk Taman Kanak-Kanak. Tapi akhirnya ayah mengalah setelah setiap hari dibuat repot oleh Dylan.
'Cari playgroup yang murni bermain ya Bunda, 'pesan ayah. Bunda juga tidak mau kalau Dylan jadi trauma sekolah gara-gara dia disuruh duduk manis di sekolah. Dylan anak yang aktif dan kompetitif, sama kakak saja dia tidak mau mengalah.Jadi harus cari sekolah yang cocok buat dia.
Akhirnya Bunda menemukan sekolah playgroup yang tidak terlalu jauh dari rumah. Programnya bermain dan belajar. Sekolahnya tiga kali seminggu, Selasa, Kamis dan Sabtu.
Akhirnya tibalah hari bersejarah itu. Pagi-pagi Dylan tidak rewel, karena kalau dia rewel diancam tidak jadi sekolah. Tapi dia tetap berangkat belakangan, naik ojeg sama mbak Yanti, karena sekolahnya masuk jam 9. Bunda tidak bisa mengantar, karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, tapi bunda berjanji akan menjemput saat pulang.
Bunda sempat menelepon mbak Yanti menanyakan Dylan di sekolah, ternyata Dylan sedang berteriak-teriak kegirangan, diajak main pedang-pedangan sama bu guru. Ketika diajak pulang pada jam sebelas, Dylan menolak, dia masih belum puas sekolah!
Malam hari, menjelang tidur, Dylan masih bercerita tentang sekolahnya. Kakak-kakaknya sudah tidur, dan sudah bosan mendengar cerita Dylan tentang sekolahnya.
'Ayah, Bunda, thank you ya...,' Dylan berbisik di telinga ayah yang hampir terlelap.
'Oh, you are welcome,' balas ayah. Bunda tersenyum.
'Are you happy?' tanya Bunda
'Peli - peli hepi (very-very happy),' jawab Dylan.
Ayah tertawa, 'Nah, sekarang you sleep ya..'. kata Ayah.
'Yes,' jawab Dylan,'becok Dylan mau tukul again.'
'Ok,'jawab Bunda sambil memejamkan mata. Namun sedetik kemudian bunda terlonjak,'Gawat!!' kata Bunda
Ayah ikut kaget,'Ada apa Bunda?'
'Bukannya besok Dylan libur? Dia school again hari Kamis!' Bunda panik
'No!! Dylan mau tukul becok!!' Dylan mulai ngadat.
Ayah menghela nafas, 'Sudahlah sekarang sleep dulu,'bujuk Ayah.
'Tapi, becok Dylan tukul again ya!' Dylan memastikan.
Bunda ikut menghela nafas, wah besok bakal terjadi pertumpahan air mata lagi!!

Cimahi, 24 Maret 2008
Inspired by my angels: Diaz, Diar, dan Dylan

Tidak ada komentar: