Dulu, aku sempat merasa nelangsa, karena tidak bekerja setelah lulus kuliah.
Aku merasa hampa, karena hanya diam di rumah, mengerjakan urusan rumah tangga, membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak, mengurus anak, menunggu suami pulang bekerja.
Aku merasa potensiku terbuang sia-sia.
Padahal aku kuliah di fakultas kedokteran yang banyak orang menginginkannya.
Sampai datang kesempatan aku bekerja sebagai dosen.
Sebenarnya menyenangkan, dengan waktu kerja yang tidak terlalu panjang.
Bahkan aku mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2.
Namun aku merasa tidak cukup.
Aku ingin meraih sesuatu yang lebih lagi. Aku pun menjadi Pegawai Negeri.
Semakin lama pekerjaan sebagai pegawai negeri semakin mencuri waktuku.
Mulai dari mengejar apel pagi-pagi sampai berbagai pekerjaan yang sangat menyita waktu dan fikiran.
Pulang ke rumah, yang tersisa adalah lelah.
Anak-anak yang menuntut perhatian malah mendapat amarah
Belum lagi tumpukan rasa bersalah.
Bayi yang terpaksa disapih sebelum waktunya.
Berbagai momen istimewa
yang terpaksa kulewatkan dengan sia-sia
Hari pertama anakku sekolah
Saat anak-anak mendapat hadiah
Kemana bundanya??
Hampir setiap hari
Kudengar si bungsu berkata
”Bunda, jangan’ office’ ya?”
Apakah permintaan itu
Cerminan dari rasa tidak ’aman’ nya?
Karena tidak ada bunda yang menemaninya??
Apa yang ku cari dengan bekerja?
Aktualisasi diri?
Sementara sekarang aku yakin
Aku bisa mengaktualisasikan diri
Tanpa harus bekerja dari pagi hingga sore hari??
Alhamdulillah, kesadaran ini muncul
Setelah aku melewati berbagai fase kehidupan
Sekarang aku mengerti
Di mana seorang wanita mendapatkan
Kebahagiaannya yang hakiki
Bukan pada pekerjaan
Bukan pada kekayaan
Bukan pada jabatan
Bukan juga pada segala sanjungan
Namun karena kembali kepada kodratnya
Untuk memberikan rasa aman dan kasih sayang
Pada keluarga..................
Berikan aku kekuatan
Untuk mengatakan pada dunia
Bahwa sekarang aku mengerti
Kenapa Islam tidak mewajibkan wanita untuk bekerja
Karena Islam telah mengetahui
Di mana kodrat seorang wanita
dan aku........
ingin kembali berlari
meraih apa yang selama ini
aku tinggalkan...............
Aku ingin mendampingi anak-anakku.
di setiap fase kehidupan mereka...
aku ingin kembali ke istanaku
di rumah yang telah kehilangan ratunya....
Bismillah....
tolong mudahkan langkahku
untuk kembali
........................................
.......................................
Cimahi, 16 Juli 200
14 Juli 2008
From Bandung with Love
Alhamdulillah, chemistry di antara kita tetap kuat (special untuk rekans yang menghadiri acara “Janjian Ketemuan” ini). Tali silaturrahim semakin erat. Kita sudah seperti keluarga besar. Menggali kenangan masa lalu, ibarat merangkai manik- manik kalung kehidupan yang tak ternilai harganya. Untuk memperkaya batin, menyegarkan fikiran yang selama ini hanya berkutat dalam lingkaran ekonomi material. Kebersamaan kita adalah kekayaan non materi!! ( Maka rugilah teman-teman yang tidak bergabung, karena tidak sempat menikmati kekayaan ini ).
Buat teman-teman se-alumni, maksudnya supaya teman-teman yang lain dapat ikut merasakan bahwa kami semua telah menjalani berbagai terapi selama pertemuan. antara lain:
a. Terapi Oksigen
Pertemuan dilakukan di daerah pegunungan dengan ketinggian 1.250 dpl ( bukan di atas permukaan laut, tapi di perkirakan lebih banyak salahnya). Di sini kadar oksigennya lebih rendah, namun lebih murni alias lebih sedikit polusinya. Kadar oksigen yang lebih rendah memaksa paru-paru mengembang lebih besar dan hemoglobin bertambah.
b. Terapi ketawa
Dengan banyak tertawa, otak mengeluarkan hormon endorfin, yaitu morfin alami. Hormon ini menyebabkan perasaan bahagia, menghilangkan rasa sakit dan stress.
c. Terapi fisik
Di Ciwangun Indah Camp, kami melewati lebih dari 100 anak tangga ( mungkin Ridwan dengan pe-de bisa menyebut jumlahnya sampai satuan terkecil, tapi hati-hati karena belum tentu benar, he..he…). Flying fox yang melintasi lembah, dan playing soccer di Rumah Strawberry. Gegap gempitanya mampu menyaingi piala eropa. Dan kepiawaian Yayan menggocek bola mengingatkan kami pada kelicikan Maradona di piala dunia (lho, apa hubungannya ya?)
Laporan Urutan Kegiatan:
Awalnya Des 2007 : Pertemuan di Tapos Bogor menetapkan Pertemuan selanjutnya di Jogja. Namun pada bulan Mei - Juni 2008 dilakukan Pembatalan keputusan pertama dan terbit keputusan baru bahwa pertemuan selanjutnya di Bandung pada awal Juli 2008.
Persiapan Kegiatan:
Dewi Sarah keluar masuk hotel di Bandung untuk membooking kamar untuk teman- teman dari luar kota. Pesanan kamar hotelpun mengalami degradasi dari awal hotel bintang 5 sampai akhirnya hotel melati 5. Itupun didapat setelah Dewi yang nyaris putus asa memutuskan untuk keluar jalan kaki malam-malam mencari inspirasi yang malah menuntun langkahnya menuju Hotel Pilatus yang jaraknya hanya sepeminuman teh dari rumahnya.
Pelaksanaan Kegiatan:
Jumat siang, 4 Juli 2008 : Meli datang, dijemput Dewi dan langsung diamankan di rumahnya. Di sana Mayor Eko bergabung dan langsung menginterogasi sampai malam. Wah…
Jumat malam, 4 Juli 2008 : Bang En datang bersama Fatin dan Syahid dan langsung diamankan di rumahku.
Sabtu, 5 Juli 2008:Dewi dkk menggabungkan diri di Sariwangi. Disusul kedatangan Dian Bniarie dan rombongannya. Setelah bolak balik menelepon, akhirnya Erry & Yayan sekeluarga juga sampai di Sariwangi. Mayor Mirza ( ini sebagai ralat, karena sebelumnya disebut kapten, mohon maaf kepada ybs), sempat bergabung sebentar namun tidak ikut ke ciwangun. Iring-iringan pun bergerak menuju Ciwangun Indah Camp. Ridwan & keluarga bergabung di sini.
Kegiatan selama di sini akan disampaikan melalui foto.
Jam 16.30
Bergerak menuju Rumah Stroberi, Heni telah menunggu di sini ditemani Dewi, Eko dan Meli.
Jam 19.00
Kembali ke penginapan masing-masing. Di sini bergabung 2 orang angkatan 85, yaitu Agus dan Johan.
Ucapan-ucapan:
1. Selamat Ulang Tahun untuk Dian Bniarie yang hari jadinya 5 Juli. Yang ke berapa? Enggak usah disebutlah, hitung aja sendiri. Semoga selalu sehat dan bahagia. Terima kasih sudah mengcover Rumah Stroberi.
2. Selamat untuk Ridwan yang sudah tampil beda dengan perut yang lebih rata. Selamat untuk promosinya sebagai South East Asia Manager, namun pesan kami semua jangan lupa tugas utamanya sebagai Manajer Arya (alias manajer untuk anak sendiri supaya tidak mengikuti sifat bapaknya,…. sifat jelek maksudnya, kalau sifat yang bagus sih malah kami doakan!)Juga selamat untuk Ny. Ridwan yang telah berhasil mensupport program diet suami.
3. Terima kasih untuk Dewi Sarah untuk segala usahanya, mulai dari memesan hotel sampai memesan Rumah Stroberi, dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan. Termasuk menyediakan Bandrek khusus untuk orang Dewasa. Erry antusias banget memberikannya untuk Yayan yang menerimanya sambil tersipu-sipu. Yang lain barangkali malu-malu. Itulah yang menyebabkan kami mengirimkan bandrek tersebut ke hotel, siapa tau ada yang perlu! He…he..
4. Salut untuk Meli dan Bang En atas perjuangannya untuk mencari tiket ke Bandung. Tak ada rotan akar pun jadi, tak dapat tiket kereta, naik travelpun jadi.
5. Terima kasih untuk Erry dan Yayan yang telah berhasil mengkoordinir teman-teman di Jakarta-Bandung untuk hadir, kabarnya Erry menggunakan berbagai cara untuk membujuk, mulai dari merayu, mengancam sampai mengintimidasi, he..he…
6. Angkat topi untuk Heni KC, yang rela menempuh kemacetan untuk bergabung dengan rekan-rekan di rumah Stroberi dan langsung kembali bekerja malam harinya. Luar biasa!
Ternyata, walaupun langsing, Henni mampu berkolaborasi dengan Eko untuk menghabiskan seperiuk nasi liwet, entah karena saking laparnya atau insting yang membuatnya harus survive berkompetisi dengan Eko.
7. Terima kasih juga untuk Mayor Eko Oswari yang tetap semangat mengikuti pertemuan walaupun baru ketauan menderita Valley Phobia yaitu perasaan takut berada di lembah. Ini berkaitan erat dengan profesi beliau sebagai tentara. Dan pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa lembah merupakan tempat yang sangat tidak aman karena bisa menjadi sasaran empuk musuh dari atas. Dan menurut Eko, flying fox melintasi lembah bukanlah apa-apa, karena beliau biasa melakukan flying fox dengan rute yang lebih jauh, lebih tinggi, dan yang lebih dahsyat lagi tanpa menggunakan pengaman sambil ditembaki dari bawah. Gratis lagi! (Mungkin beliau lupa, menceritakan pengalaman waktu perang)
8. Mayor Mirza, yang tetap menyempatkan hadir walaupun tidak bisa mengikuti acara secara keseluruhan. Maaf kami sempat menyatroni rumahmu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Soalnya Bang En kangen banget pingin ketemu, dan Meli penasaran ingin melihat wajah Mirza yang selama ini lenyap dari memorinya.
9. Last but not least, special thanks to Mr. Yudi Limbar Yasik atas segala perhatian, kesabaran dan pengertian to accomodate everything I need and everything I want. (Nanti ini kita bahas lebih dalam berdua aja ya, yang lain gak usah ikutan, lagian ini khusus dewasa, jadi disensor, soalnya di sini banyak anak kecil, husy..!)
Buat anak-anak tersayang: Diaz, Diar, Dylan, Dana, Rafif, Sheren, Fatin, Syahid, Ryan, Sophie dan Arya. Semoga pertemuan demi pertemuan, semakin mengikat tali persahabatan di antara kalian.
Juga untuk berbagai pihak yang ikut berperan serta dalam acara ini: mbak2 pengasuh yang cantik-cantik ( untung Hamdi gak ikut, karena menurut Yayan, Hamdi suka nanyain mbak2 yang cantik, he…he.. sorry, becanda..), keluarga2 lain yang ikut berpartisipasi, mbak Tia yang memandu acara permainan anak-anak di sungai, dan lain-lain yang susah disebutkan satu persatu .
Buat yang batal hadir, Sahala & Kel, Febry & Kel, mudah-mudahan next time bisa ikut, lunch yang kami siapkan buat kalian kabarnya dibagi-bagikan buat Satpam hotel.
Buat Sansan, terima kasih ikut bergabung, kak Agus & Johan, lain kali jangan kemaleman ya.
Buat mang Fadil, terima kasih sudah menggoogle earth kan rumahku, walaupun belum sempat ditandai karena acara sudah keburu berlangsung.
Demikianlah laporan ini dibuat untuk dilengkapi oleh teman-teman yang lain. Untuk pertemuan selanjutnya, dijadwalkan akhir tahun di Jogja. Kali ini mohon direalisasikan dengan seksama dan jangan sampai dipindah lagi. Demikian undangan khusus dari H. Hamdi di Jogja.
Bandung, 7 Juli 2008
From Bandung with Love,
Yuli Ramunda Yasik
DYLAN MAU SEKOLAH
Dylan Mau Sekolah
Sudah seminggu ini Dylan bikin heboh pagi-pagi. Entah dapat ide dari mana, dia pingin ikut kakaknya sekolah, padahal umurnya baru 2 tahun 7 bulan. Kakak-kakaknya 'take shower' (mandi), dia ikutan. Lalu minta dipakaikan baju sama bunda. Setelah rapi, dia sibuk mencari 'cok'(socks/kaus kaki), kadang-kadang satu biru, satu putih, setelah itu dia sibuk minta dipakaikan 'cus' (shoes/ sepatu) dan menyelempangkan 'bag' /tas di leher, lalu menunggu mobil jemputan sekolah di teras. 'Dylan mau tukul, ayah', katanya.
Ayah bingung, 'Tukul? Tukul Arwana?'Ayah malah ingat dengan presenter acara televisi yang ndeso itu.
'Maksudnya school, ayah,' jelas bunda.
Dylan sejak kecil memang sudah diajak bicara bilingual, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, jadi ngomongnya campur-campur. Lucu.
'Boleh school, if you have been a big boy ya,' kata Ayah.
Dylan tetap ngotot, pokoknya dia mau sekolah. Akhirnya terjadilah pertumpahan air mata, karena bus sekolah hanya mengangkut kak Diaz dan kak Diar. Dia menangis, sambil mengejar-ngejar bus sekolah. Mbak Yanti terpaksa harus menyeretnya pulang. Dan kejadian ini berulang setiap pagi. Bukan itu saja, dia juga memaksa ikut ayah ke kantor.
'Ayah mau 'office', kata Ayah.
'Dylan juga mau 'office', dia tidak mau kalah.
'Iya, boleh, kalau sudah besar,' Ayah berusaha menjelaskan.
'No, ayah, Dylan mau 'office' cekalang!' Dylan memang rada keras kepala. Apa karena dia anak bungsu ya?
Dan dia kembali ngamuk karena ditinggal ayah. Saat bunda berangkat ke kantor, kejadian yang sama berulang. Mbak Yanti sampai kewalahan. Nangisnya lebih dari sejam, lapor mbak Yanti sore harinya.
Bunda akhirnya mencari sekolah buat Dylan. Ayah pada awalnya tidak setuju, karena beranggapan Dylan masih terlalu kecil untuk sekolah, dia lebih aman di rumah sama mbak Yanti. Lagipula kakak-kakaknya mulai sekolah umur 4 tahun, masuk Taman Kanak-Kanak. Tapi akhirnya ayah mengalah setelah setiap hari dibuat repot oleh Dylan.
'Cari playgroup yang murni bermain ya Bunda, 'pesan ayah. Bunda juga tidak mau kalau Dylan jadi trauma sekolah gara-gara dia disuruh duduk manis di sekolah. Dylan anak yang aktif dan kompetitif, sama kakak saja dia tidak mau mengalah.Jadi harus cari sekolah yang cocok buat dia.
Akhirnya Bunda menemukan sekolah playgroup yang tidak terlalu jauh dari rumah. Programnya bermain dan belajar. Sekolahnya tiga kali seminggu, Selasa, Kamis dan Sabtu.
Akhirnya tibalah hari bersejarah itu. Pagi-pagi Dylan tidak rewel, karena kalau dia rewel diancam tidak jadi sekolah. Tapi dia tetap berangkat belakangan, naik ojeg sama mbak Yanti, karena sekolahnya masuk jam 9. Bunda tidak bisa mengantar, karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, tapi bunda berjanji akan menjemput saat pulang.
Bunda sempat menelepon mbak Yanti menanyakan Dylan di sekolah, ternyata Dylan sedang berteriak-teriak kegirangan, diajak main pedang-pedangan sama bu guru. Ketika diajak pulang pada jam sebelas, Dylan menolak, dia masih belum puas sekolah!
Malam hari, menjelang tidur, Dylan masih bercerita tentang sekolahnya. Kakak-kakaknya sudah tidur, dan sudah bosan mendengar cerita Dylan tentang sekolahnya.
'Ayah, Bunda, thank you ya...,' Dylan berbisik di telinga ayah yang hampir terlelap.
'Oh, you are welcome,' balas ayah. Bunda tersenyum.
'Are you happy?' tanya Bunda
'Peli - peli hepi (very-very happy),' jawab Dylan.
Ayah tertawa, 'Nah, sekarang you sleep ya..'. kata Ayah.
'Yes,' jawab Dylan,'becok Dylan mau tukul again.'
'Ok,'jawab Bunda sambil memejamkan mata. Namun sedetik kemudian bunda terlonjak,'Gawat!!' kata Bunda
Ayah ikut kaget,'Ada apa Bunda?'
'Bukannya besok Dylan libur? Dia school again hari Kamis!' Bunda panik
'No!! Dylan mau tukul becok!!' Dylan mulai ngadat.
Ayah menghela nafas, 'Sudahlah sekarang sleep dulu,'bujuk Ayah.
'Tapi, becok Dylan tukul again ya!' Dylan memastikan.
Bunda ikut menghela nafas, wah besok bakal terjadi pertumpahan air mata lagi!!
Cimahi, 24 Maret 2008
Inspired by my angels: Diaz, Diar, dan Dylan
I HAVE A DREAM
I HAVE A DREAM
Kalau Martin Luther King bisa bermimpi tentang persamaan hak antara kaum kulit hitam dan kulit putih di Amerika, maka saya juga ingin bermimpi tentang hak-hak kaum wanita dan anak-anak di negri ini.
Jika pidato Martin Luther King yang berjudul I Have a Dream pada tahun 1963 ini menjadi bacaan wajib anak-anak sekolah di Amerika, maka saya tidak bermimpi agar mimpi saya ini menjadi bacaan wajib siapa pun juga.
Namun,sebagai seorang ibu, saya bermimpi seandainya di setiap kantor pemerintahan, kantor perusahaan, pabrik, atau kantor apapun juga yang memiliki karyawan wanita, memiliki gedung pendamping yang layak untuk penitipan anak dan bayi, lengkap dengan sarana air bersih, pengasuh yang kompeten, dan fasilitas kesehatan, sehingga tidak ada lagi anak-anak atau bayi yang terpaksa disapih karena sang ibu harus bekerja. Tidak ada lagi hal-hal absurd, seperti slogan pemerintah yang menghendaki bayi mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan, padahal aturan pemerintah sendiri yang hanya memberikan cuti melahirkan selama 3 bulan.
Saya bermimpi ibu-ibu pekerja datang ke tempat kerja menggendong bayi-bayi yang montok dan sehat karena mendapat ASI yang cukup, mendapat imunisasi yang terjadwal, mendapat perawatan yang memadai, dan tetap mendapat perhatian dan kasih sayang dari ibu kandung mereka. Saya bermimpi ibu-ibu pekerja dapat bekerja dengan nyaman karena buah hati mereka terawat dengan baik dan dapat mereka jenguk dan diberi ASI di sela-sela waktu istirahat. Saya bermimpi ibu-ibu pekerja pulang bekerja sambil menggendong bayi-bayi montok yang tertidur lelap dan tersenyum bahagia dalam dekapan hangat dada ibu mereka.Adakah perusahaan yang bisa mewujudkan mimpi saya? Atau adakah instansi pemerintah yang bersedia menjadi pionir sebagai instansi yang peduli terhadap masalah ini? Ataukah masalah kesejahteraan batin ibu dan anak tidak dianggap penting lagi? Apakah tindakan membahagiakan ibu dan anak dianggap suatu tindakan pemborosan biaya semata? Tapi coba dilihat dari sudut pandang yang lain. Seandainya pemberian ASI eksklusif tidak hanya sekedar slogan semata, tapi benar-benar dihayati dan didukung oleh semua pihak, berapa milyar dana pembelian susu formula yang dapat dihemat? Berapa besar dana yang tak perlu keluar sia-sia untuk perawatan bayi-bayi yang terkena infeksi saluran pencernaan akibat penyiapan susu formula yang tidak hygienis? Hal yang tidak perlu terjadi jika bayi-bayi mendapat ASI.
Biaya pembangunan sarana dan prasarana perawatan bayi dan anak tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan peningkatan produktivitas ibu-ibu pekerja dan perkembangan fisik dan mental yang sehat dari bayi-bayi yang akan menjadi generasi penerus bangsa ini.
Saya bermimpi bahwa di negri ini, di setiap lantai gedung perbelanjaan, di pasar, di taman hutan raya, di kebun binatang, dan di tempat-tempat umum lainnya tersedia ruang khusus untuk ibu dan bayinya. Di ruang ini tersedia tempat yang nyaman bagi seorang ibu untuk mengganti popok bayi, menyusui, dan menyuapi bayinya makan. Saya bermimpi seperti ini karena saya pernah melihat suatu negara yang telah melakukannya. Dan saya terkesima, alangkah indahnya penghormatan mereka terhadap eksistensi seorang ibu, alangkah indahnya cinta kasih mereka terhadap bayi dan anak-anak. Di setiap tempat umum, selalu tersedia 'nursery room'. Di sini ibu-ibu bebas menyusui bayinya, membersihkan popok, menyiapkan makanan dan beristirahat dengan bayinya. Ruang-ruang publik adalah ruang yang bersahabat bagi para ibu dan buah hatinya. Saya bermimpi, suatu saat di negeri yang berasaskan Pancasila ini, yang salah satu silanya adalah Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, paraibu, bayi, dan anak-anak benar-benar mendapatkan hak-hak manusiawi mereka.
Saya bermimpi, suatu saat di negeri ini, para wanita tidak dipandang dengan pandangan penuh mesum oleh para lelaki, karena wanita tidak membanggakan keindahan tubuhnya. Saya bermimpi, bahwa para lelaki di negeri ini sangat menghormati wanita karena mereka sangat menghormati ibu mereka yang telah membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang. Mereka menghargai wanita karena kecerdasan fikiran,kelembutan hati dan kepekaan perasaan mereka,sebagai penyeimbang rasionalitas fikiran dan kekuatan fisik laki-laki.
Saya bermimpi, generasi berikutnya di negeri ini adalah generasi yang santun dan penuh kasih, karena mereka dibesarkan dalam keluarga yang santun dan penuh kasih
Saya bermimpi , generasi penerus di negeri ini adalah generasi yang cerdas secara emosi dan spiritual, karena kebutuhan emosi dan spiritual mereka tercukupi dalam keluarga. Kecerdasan emosi dan spiritual ini lebih berharga untuk mengarungi kehidupan dan menghadapi berbagai persoalan bernegara.
Anehnya, saya tidak bermimpi tentang emansipasi, karena saya tidak paham tentang emansipasi yang sampai sekarangpun masih jadi kontroversi. Saya hanya bermimpi tentang indahnya negeri ini jika hak-hak wanita dan anak-anak dihargai. Alangkah indahnya masa depan bangsa ini jika generasi penerusnya adalah generasi yang tangguh, berakhlak mulia dan santun.
Saya bermimpi, tidak ada lagi tindakan anarki di negeri ini, karena kebutuhan kasih sayang telah tercukupi. Bukan, bukan materi yang harus dipenuhi. Wanita tidak identik dengan materi. Tapi wanita identik dengan kemampuannya untuk mengasihi, melindungi dan menentramkan hati. Karena kemampuan itulah Yang Maha Kuasa mempercayakan wanita untuk mengandung dan merawat bayi. Sungguh ini adalah anugerah tak terhingga buat seorang wanita.
Saya bermimpi, setiap suami di negeri ini bangga terhadap istrinya, karena para istri ini adalah wanita yang cerdas. Mereka memiliki ilmu pengetahuan yang luas karena telah menempuh pendidikan yang tinggi. Mereka bisa menjadi teman diskusi yang mengasyikkan, manajer rumah tangga yang andal, ibu yang sangat kompeten buat anak-anak dan kekasih yang penuh cinta dan kelembutan.
Saya bermimpi setiap wanita di negeri ini adalah wanita yang bebas dan bahagia. Bebas dalam arti mereka memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk belajar dan berkarir. Bahagia, karena mereka menyadari anugerah istimewa yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa sebagai seorang wanita, dan seluruh sistem dan subsistem dalam masyarakat menghargai dan menghormati hak-hak mereka sebagai seorang wanita termasuk terhadap anak-anak yang mereka lahirkan
Jika sudah demikian, angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka gizi buruk dan berbagai indikator kesehatan lain tak akan jadi masalah lagi. Tak perlu ada program Suami Siaga, Desa Siaga dan lain-lain, karena seluruh komponen dalam masyarakat telah siaga menjaga aset yang tak ternilai harganya, yaitu para wanita dan anak-anak. Saya bermimpi, jika semua wanita dan anak-anak di negeri ini berbahagia, maka seluruh bangsa juga ikut berbahagia.Memang saya hanya bermimpi, tapi bukankah segala sesuatunya berawal dari mimpi?
Bandung, 28 Maret 2008
Menjelang hari Kartini
Kalau Martin Luther King bisa bermimpi tentang persamaan hak antara kaum kulit hitam dan kulit putih di Amerika, maka saya juga ingin bermimpi tentang hak-hak kaum wanita dan anak-anak di negri ini.
Jika pidato Martin Luther King yang berjudul I Have a Dream pada tahun 1963 ini menjadi bacaan wajib anak-anak sekolah di Amerika, maka saya tidak bermimpi agar mimpi saya ini menjadi bacaan wajib siapa pun juga.
Namun,sebagai seorang ibu, saya bermimpi seandainya di setiap kantor pemerintahan, kantor perusahaan, pabrik, atau kantor apapun juga yang memiliki karyawan wanita, memiliki gedung pendamping yang layak untuk penitipan anak dan bayi, lengkap dengan sarana air bersih, pengasuh yang kompeten, dan fasilitas kesehatan, sehingga tidak ada lagi anak-anak atau bayi yang terpaksa disapih karena sang ibu harus bekerja. Tidak ada lagi hal-hal absurd, seperti slogan pemerintah yang menghendaki bayi mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan, padahal aturan pemerintah sendiri yang hanya memberikan cuti melahirkan selama 3 bulan.
Saya bermimpi ibu-ibu pekerja datang ke tempat kerja menggendong bayi-bayi yang montok dan sehat karena mendapat ASI yang cukup, mendapat imunisasi yang terjadwal, mendapat perawatan yang memadai, dan tetap mendapat perhatian dan kasih sayang dari ibu kandung mereka. Saya bermimpi ibu-ibu pekerja dapat bekerja dengan nyaman karena buah hati mereka terawat dengan baik dan dapat mereka jenguk dan diberi ASI di sela-sela waktu istirahat. Saya bermimpi ibu-ibu pekerja pulang bekerja sambil menggendong bayi-bayi montok yang tertidur lelap dan tersenyum bahagia dalam dekapan hangat dada ibu mereka.Adakah perusahaan yang bisa mewujudkan mimpi saya? Atau adakah instansi pemerintah yang bersedia menjadi pionir sebagai instansi yang peduli terhadap masalah ini? Ataukah masalah kesejahteraan batin ibu dan anak tidak dianggap penting lagi? Apakah tindakan membahagiakan ibu dan anak dianggap suatu tindakan pemborosan biaya semata? Tapi coba dilihat dari sudut pandang yang lain. Seandainya pemberian ASI eksklusif tidak hanya sekedar slogan semata, tapi benar-benar dihayati dan didukung oleh semua pihak, berapa milyar dana pembelian susu formula yang dapat dihemat? Berapa besar dana yang tak perlu keluar sia-sia untuk perawatan bayi-bayi yang terkena infeksi saluran pencernaan akibat penyiapan susu formula yang tidak hygienis? Hal yang tidak perlu terjadi jika bayi-bayi mendapat ASI.
Biaya pembangunan sarana dan prasarana perawatan bayi dan anak tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan peningkatan produktivitas ibu-ibu pekerja dan perkembangan fisik dan mental yang sehat dari bayi-bayi yang akan menjadi generasi penerus bangsa ini.
Saya bermimpi bahwa di negri ini, di setiap lantai gedung perbelanjaan, di pasar, di taman hutan raya, di kebun binatang, dan di tempat-tempat umum lainnya tersedia ruang khusus untuk ibu dan bayinya. Di ruang ini tersedia tempat yang nyaman bagi seorang ibu untuk mengganti popok bayi, menyusui, dan menyuapi bayinya makan. Saya bermimpi seperti ini karena saya pernah melihat suatu negara yang telah melakukannya. Dan saya terkesima, alangkah indahnya penghormatan mereka terhadap eksistensi seorang ibu, alangkah indahnya cinta kasih mereka terhadap bayi dan anak-anak. Di setiap tempat umum, selalu tersedia 'nursery room'. Di sini ibu-ibu bebas menyusui bayinya, membersihkan popok, menyiapkan makanan dan beristirahat dengan bayinya. Ruang-ruang publik adalah ruang yang bersahabat bagi para ibu dan buah hatinya. Saya bermimpi, suatu saat di negeri yang berasaskan Pancasila ini, yang salah satu silanya adalah Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, paraibu, bayi, dan anak-anak benar-benar mendapatkan hak-hak manusiawi mereka.
Saya bermimpi, suatu saat di negeri ini, para wanita tidak dipandang dengan pandangan penuh mesum oleh para lelaki, karena wanita tidak membanggakan keindahan tubuhnya. Saya bermimpi, bahwa para lelaki di negeri ini sangat menghormati wanita karena mereka sangat menghormati ibu mereka yang telah membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang. Mereka menghargai wanita karena kecerdasan fikiran,kelembutan hati dan kepekaan perasaan mereka,sebagai penyeimbang rasionalitas fikiran dan kekuatan fisik laki-laki.
Saya bermimpi, generasi berikutnya di negeri ini adalah generasi yang santun dan penuh kasih, karena mereka dibesarkan dalam keluarga yang santun dan penuh kasih
Saya bermimpi , generasi penerus di negeri ini adalah generasi yang cerdas secara emosi dan spiritual, karena kebutuhan emosi dan spiritual mereka tercukupi dalam keluarga. Kecerdasan emosi dan spiritual ini lebih berharga untuk mengarungi kehidupan dan menghadapi berbagai persoalan bernegara.
Anehnya, saya tidak bermimpi tentang emansipasi, karena saya tidak paham tentang emansipasi yang sampai sekarangpun masih jadi kontroversi. Saya hanya bermimpi tentang indahnya negeri ini jika hak-hak wanita dan anak-anak dihargai. Alangkah indahnya masa depan bangsa ini jika generasi penerusnya adalah generasi yang tangguh, berakhlak mulia dan santun.
Saya bermimpi, tidak ada lagi tindakan anarki di negeri ini, karena kebutuhan kasih sayang telah tercukupi. Bukan, bukan materi yang harus dipenuhi. Wanita tidak identik dengan materi. Tapi wanita identik dengan kemampuannya untuk mengasihi, melindungi dan menentramkan hati. Karena kemampuan itulah Yang Maha Kuasa mempercayakan wanita untuk mengandung dan merawat bayi. Sungguh ini adalah anugerah tak terhingga buat seorang wanita.
Saya bermimpi, setiap suami di negeri ini bangga terhadap istrinya, karena para istri ini adalah wanita yang cerdas. Mereka memiliki ilmu pengetahuan yang luas karena telah menempuh pendidikan yang tinggi. Mereka bisa menjadi teman diskusi yang mengasyikkan, manajer rumah tangga yang andal, ibu yang sangat kompeten buat anak-anak dan kekasih yang penuh cinta dan kelembutan.
Saya bermimpi setiap wanita di negeri ini adalah wanita yang bebas dan bahagia. Bebas dalam arti mereka memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk belajar dan berkarir. Bahagia, karena mereka menyadari anugerah istimewa yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa sebagai seorang wanita, dan seluruh sistem dan subsistem dalam masyarakat menghargai dan menghormati hak-hak mereka sebagai seorang wanita termasuk terhadap anak-anak yang mereka lahirkan
Jika sudah demikian, angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka gizi buruk dan berbagai indikator kesehatan lain tak akan jadi masalah lagi. Tak perlu ada program Suami Siaga, Desa Siaga dan lain-lain, karena seluruh komponen dalam masyarakat telah siaga menjaga aset yang tak ternilai harganya, yaitu para wanita dan anak-anak. Saya bermimpi, jika semua wanita dan anak-anak di negeri ini berbahagia, maka seluruh bangsa juga ikut berbahagia.Memang saya hanya bermimpi, tapi bukankah segala sesuatunya berawal dari mimpi?
Bandung, 28 Maret 2008
Menjelang hari Kartini
06 Mei 2008
ORANG YANG SUKSES
Suatu ketika, di dalam kendaraan dalam perjalanan pulang ke rumah, saya dan suami berbincang-bincang tentang teman-teman masa sekolah dulu yang kini sudah menjadi orang yang ‘sukses’, dalam artian memiliki pekerjaan yang menunjang hidup dan memiliki rumah dan kendaraan yang bagus. Pembicaraan berlanjut sampai ke salah seorang sepupu suami yang baru saja mengundang hajatan ‘open house’ rumah barunya yang megah yang berdiri di atas tanah lebih dari 1000 meter persegi di kawasan Jakarta Timur!
Selagi asyik berbincang, tiba-tiba anak sulung saya yang duduk di bangku belakang nyeletuk,” Oh, orang yang sukses itu orang yang punya rumah dan kendaraan bagus, ya!” Saya dan suami jadi tersentak, dan membutuhkan waktu cukup lama sebelum bisa menjawab. Akhirnya kami menjawab bahwa orang yang sukses dalam hidup bukan orang yang telah berhasil memiliki harta berupa rumah maupun kendaraan yang mewah. Namun untuk menjawab dengan jelas apa yang dimaksud dengan orang yang sukses kami sepakat untuk menangguhkan dulu.
Sesampai di rumah, saya dan suami berdiskusi cukup lama untuk menjawab pertanyaan si sulung. Akhirnya kami sepakat untuk menjelaskan kepadanya bahwa yang dimaksud dengan orang yang sukses adalah orang yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Orang kaya yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain bisa disebut orang yang sukses, namun orang yang miskinpun bisa disebut orang yang sukses apabila dalam hidupnya dia memberikan manfaat yang banyak kepada orang lain. Tentu saja orang yang mempunyai harta lebih banyak, akan memiliki kemampuan yang lebih banyak pula untuk memberikan manfaat kepada orang lain melalui hartanya tersebut. Orang yang memiliki harta yang melimpah namun sangat sedikit memberikan manfaat belum bisa disebut orang yang sukses, apalagi bila harta yang didapat itu ternyata berasal dari kegiatan yang merugikan orang lain.
Dengan jawaban tersebut, kami berharap si sulung tidak salah langkah dalam mengejar cita-cita menjadi orang yang sukses. Kami tidak ingin si sulung hanya mengejar sukses yang hanya bersifat materi. Itu hanya kesuksesan semu. Kami ingin anak-anak menjadi anak-anak yang sukses dari segi materi dan spiritual. Mudah-mudahan saja penjelasan kami kepada si sulung bisa menjadi pedoman hidupnya kelak, walaupun lingkungan sekitar kita masih saja menonjolkan kesuksesan adalah kemapanan dalam bidang ekonomi semata. Mari kita mengukur diri masing-masing, sudahkah kita menjadi orang yang sukses?!
Selagi asyik berbincang, tiba-tiba anak sulung saya yang duduk di bangku belakang nyeletuk,” Oh, orang yang sukses itu orang yang punya rumah dan kendaraan bagus, ya!” Saya dan suami jadi tersentak, dan membutuhkan waktu cukup lama sebelum bisa menjawab. Akhirnya kami menjawab bahwa orang yang sukses dalam hidup bukan orang yang telah berhasil memiliki harta berupa rumah maupun kendaraan yang mewah. Namun untuk menjawab dengan jelas apa yang dimaksud dengan orang yang sukses kami sepakat untuk menangguhkan dulu.
Sesampai di rumah, saya dan suami berdiskusi cukup lama untuk menjawab pertanyaan si sulung. Akhirnya kami sepakat untuk menjelaskan kepadanya bahwa yang dimaksud dengan orang yang sukses adalah orang yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Orang kaya yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain bisa disebut orang yang sukses, namun orang yang miskinpun bisa disebut orang yang sukses apabila dalam hidupnya dia memberikan manfaat yang banyak kepada orang lain. Tentu saja orang yang mempunyai harta lebih banyak, akan memiliki kemampuan yang lebih banyak pula untuk memberikan manfaat kepada orang lain melalui hartanya tersebut. Orang yang memiliki harta yang melimpah namun sangat sedikit memberikan manfaat belum bisa disebut orang yang sukses, apalagi bila harta yang didapat itu ternyata berasal dari kegiatan yang merugikan orang lain.
Dengan jawaban tersebut, kami berharap si sulung tidak salah langkah dalam mengejar cita-cita menjadi orang yang sukses. Kami tidak ingin si sulung hanya mengejar sukses yang hanya bersifat materi. Itu hanya kesuksesan semu. Kami ingin anak-anak menjadi anak-anak yang sukses dari segi materi dan spiritual. Mudah-mudahan saja penjelasan kami kepada si sulung bisa menjadi pedoman hidupnya kelak, walaupun lingkungan sekitar kita masih saja menonjolkan kesuksesan adalah kemapanan dalam bidang ekonomi semata. Mari kita mengukur diri masing-masing, sudahkah kita menjadi orang yang sukses?!
MENGAJAK ANAK MENGHARGAI SEBUAH PROSES
Seperti ibu-ibu yang lain, saya selalu ingin anak-anak mendapat nilai tinggi di raport sekolahnya. Saya selalu ingin anak-anak menjadi juara I supaya saya bisa membanggakan anak-anak saya saat bicara dengan saudara, teman bahkan dengan orang lain yang baru saya kenal. Karena itulah saya selalu marah jika mendapati nilai ulangan anak-anak saya tidak seperti yang diharapkan. Padahal nilai-nilai ulangannya tidak terlalu jelek tetapi karena saya mengharapkan hasil sempurna, sepuluh, maka saya selalu menitikberatkan pada kesalahan yang dibuat anak, saya tidak melihat kalau sebagian besar yang dia kerjakan adalah benar!
Sampai tiba saatnya saya mendapat kesadaran bahwa saya, dan mungkin sebagian besar dari kita sangat mementingkan hasil daripada sebuah proses. Saya hanya ingin anak saya dapat nilai sempurna, tanpa mau tahu bagaimana proses untuk mencapainya. Mungkin inilah yang menyebabkan banyak terjadi kekacauan dalam masyarakat kita, karena ternyata selama ini kita telah terjebak untuk mencapai hasil tertentu tanpa mau memikirkan dan bersusah payah menjalani sebuah proses. Lihatlah seorang pencuri, dia hanya ingin mendapat hasil curian instant tanpa memikirkan proses yang halal untuk mendapatkan barang yang diinginkannya. Berbagai kejahatan lain pun memiliki modus operandi yang sama, ingin mendapatkan sesuatu melalui jalan pintas, bukan memilih prosedur yang halal!
Pemikiran ini membuat saya ketakutan sendiri, bagaimana bila anak saya menghalalkan segala cara hanya untuk mendapat nilai sempurna, sepuluh, untuk mendapat pujian dari ibunya? Bagaimana bila anak saya menerapkan semua pendidikan yang saya berikan ini untuk menjalani kehidupan seterusnya? Bagaimana bila dia sikut kiri sikut kanan hanya untuk mendapat jabatan? Dan seterusnya dan seterusnya….
Akhirnya saya memilih untuk merubah pola pendidikan. Saya tidak lagi menjanjikan sesuatu kepadanya yang hanya dapat diperolehnya jika dia menjadi juara I di kelas. Saya hanya menjelaskan bahwa dia harus belajar dengan baik, mulai dari membuat jadwal belajar, mengatur waktu antara bermain dan belajar, dan mematuhi aturan yang sudah kita sepakati bersama. Apabila proses itu telah berjalan dengan baik, apapun hasilnya dia akan mendapat hadiah. Bahkan saya menambahkan bahwa saya tidak akan peduli dengan hasil rapornya, malah kalau perlu saya tidak usah mengambil rapornya di sekolah asalkan dia telah menjalani proses dengan baik.
Ternyata dengan pola seperti ini, hasil belajar anak menjadi semakin baik. Hasil positif lainnya adalah dia menjadi semakin percaya diri, karena apa yang dipelajari di sekolah sudah terlebih dahulu dia baca di rumah. Saya juga menepati janji dengan memberikan hadiah jauh sebelum pembagian rapor tiba. Dan ketika pembagian rapor, prestasi anak ternyata jauh meningkat (walaupun sekolah anak saya tidak menerapkan sistem ranking di kelas, karena mereka menerapkan sistem setiap anak memiki kecerdasan yang berbeda/ multiple intelligent). Saya juga belajar untuk tidak lagi fokus pada kesalahan-kesalahan yang dibuat pada saat ujian melainkan memuji hasil baik yang sudah dicapainya.
Mudah-mudahan anak-anak menjadi anak-anak yang menghargai sebuah proses, sehingga mereka tidak akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Semoga generasi mereka kelak akan menjadi generasi emas yang akan memberikan manfaat dan kebaikan kepada orang banyak. Amin!
Sampai tiba saatnya saya mendapat kesadaran bahwa saya, dan mungkin sebagian besar dari kita sangat mementingkan hasil daripada sebuah proses. Saya hanya ingin anak saya dapat nilai sempurna, tanpa mau tahu bagaimana proses untuk mencapainya. Mungkin inilah yang menyebabkan banyak terjadi kekacauan dalam masyarakat kita, karena ternyata selama ini kita telah terjebak untuk mencapai hasil tertentu tanpa mau memikirkan dan bersusah payah menjalani sebuah proses. Lihatlah seorang pencuri, dia hanya ingin mendapat hasil curian instant tanpa memikirkan proses yang halal untuk mendapatkan barang yang diinginkannya. Berbagai kejahatan lain pun memiliki modus operandi yang sama, ingin mendapatkan sesuatu melalui jalan pintas, bukan memilih prosedur yang halal!
Pemikiran ini membuat saya ketakutan sendiri, bagaimana bila anak saya menghalalkan segala cara hanya untuk mendapat nilai sempurna, sepuluh, untuk mendapat pujian dari ibunya? Bagaimana bila anak saya menerapkan semua pendidikan yang saya berikan ini untuk menjalani kehidupan seterusnya? Bagaimana bila dia sikut kiri sikut kanan hanya untuk mendapat jabatan? Dan seterusnya dan seterusnya….
Akhirnya saya memilih untuk merubah pola pendidikan. Saya tidak lagi menjanjikan sesuatu kepadanya yang hanya dapat diperolehnya jika dia menjadi juara I di kelas. Saya hanya menjelaskan bahwa dia harus belajar dengan baik, mulai dari membuat jadwal belajar, mengatur waktu antara bermain dan belajar, dan mematuhi aturan yang sudah kita sepakati bersama. Apabila proses itu telah berjalan dengan baik, apapun hasilnya dia akan mendapat hadiah. Bahkan saya menambahkan bahwa saya tidak akan peduli dengan hasil rapornya, malah kalau perlu saya tidak usah mengambil rapornya di sekolah asalkan dia telah menjalani proses dengan baik.
Ternyata dengan pola seperti ini, hasil belajar anak menjadi semakin baik. Hasil positif lainnya adalah dia menjadi semakin percaya diri, karena apa yang dipelajari di sekolah sudah terlebih dahulu dia baca di rumah. Saya juga menepati janji dengan memberikan hadiah jauh sebelum pembagian rapor tiba. Dan ketika pembagian rapor, prestasi anak ternyata jauh meningkat (walaupun sekolah anak saya tidak menerapkan sistem ranking di kelas, karena mereka menerapkan sistem setiap anak memiki kecerdasan yang berbeda/ multiple intelligent). Saya juga belajar untuk tidak lagi fokus pada kesalahan-kesalahan yang dibuat pada saat ujian melainkan memuji hasil baik yang sudah dicapainya.
Mudah-mudahan anak-anak menjadi anak-anak yang menghargai sebuah proses, sehingga mereka tidak akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Semoga generasi mereka kelak akan menjadi generasi emas yang akan memberikan manfaat dan kebaikan kepada orang banyak. Amin!
Langganan:
Postingan (Atom)