Suatu ketika, di dalam kendaraan dalam perjalanan pulang ke rumah, saya dan suami berbincang-bincang tentang teman-teman masa sekolah dulu yang kini sudah menjadi orang yang ‘sukses’, dalam artian memiliki pekerjaan yang menunjang hidup dan memiliki rumah dan kendaraan yang bagus. Pembicaraan berlanjut sampai ke salah seorang sepupu suami yang baru saja mengundang hajatan ‘open house’ rumah barunya yang megah yang berdiri di atas tanah lebih dari 1000 meter persegi di kawasan Jakarta Timur!
Selagi asyik berbincang, tiba-tiba anak sulung saya yang duduk di bangku belakang nyeletuk,” Oh, orang yang sukses itu orang yang punya rumah dan kendaraan bagus, ya!” Saya dan suami jadi tersentak, dan membutuhkan waktu cukup lama sebelum bisa menjawab. Akhirnya kami menjawab bahwa orang yang sukses dalam hidup bukan orang yang telah berhasil memiliki harta berupa rumah maupun kendaraan yang mewah. Namun untuk menjawab dengan jelas apa yang dimaksud dengan orang yang sukses kami sepakat untuk menangguhkan dulu.
Sesampai di rumah, saya dan suami berdiskusi cukup lama untuk menjawab pertanyaan si sulung. Akhirnya kami sepakat untuk menjelaskan kepadanya bahwa yang dimaksud dengan orang yang sukses adalah orang yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Orang kaya yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain bisa disebut orang yang sukses, namun orang yang miskinpun bisa disebut orang yang sukses apabila dalam hidupnya dia memberikan manfaat yang banyak kepada orang lain. Tentu saja orang yang mempunyai harta lebih banyak, akan memiliki kemampuan yang lebih banyak pula untuk memberikan manfaat kepada orang lain melalui hartanya tersebut. Orang yang memiliki harta yang melimpah namun sangat sedikit memberikan manfaat belum bisa disebut orang yang sukses, apalagi bila harta yang didapat itu ternyata berasal dari kegiatan yang merugikan orang lain.
Dengan jawaban tersebut, kami berharap si sulung tidak salah langkah dalam mengejar cita-cita menjadi orang yang sukses. Kami tidak ingin si sulung hanya mengejar sukses yang hanya bersifat materi. Itu hanya kesuksesan semu. Kami ingin anak-anak menjadi anak-anak yang sukses dari segi materi dan spiritual. Mudah-mudahan saja penjelasan kami kepada si sulung bisa menjadi pedoman hidupnya kelak, walaupun lingkungan sekitar kita masih saja menonjolkan kesuksesan adalah kemapanan dalam bidang ekonomi semata. Mari kita mengukur diri masing-masing, sudahkah kita menjadi orang yang sukses?!
06 Mei 2008
MENGAJAK ANAK MENGHARGAI SEBUAH PROSES
Seperti ibu-ibu yang lain, saya selalu ingin anak-anak mendapat nilai tinggi di raport sekolahnya. Saya selalu ingin anak-anak menjadi juara I supaya saya bisa membanggakan anak-anak saya saat bicara dengan saudara, teman bahkan dengan orang lain yang baru saya kenal. Karena itulah saya selalu marah jika mendapati nilai ulangan anak-anak saya tidak seperti yang diharapkan. Padahal nilai-nilai ulangannya tidak terlalu jelek tetapi karena saya mengharapkan hasil sempurna, sepuluh, maka saya selalu menitikberatkan pada kesalahan yang dibuat anak, saya tidak melihat kalau sebagian besar yang dia kerjakan adalah benar!
Sampai tiba saatnya saya mendapat kesadaran bahwa saya, dan mungkin sebagian besar dari kita sangat mementingkan hasil daripada sebuah proses. Saya hanya ingin anak saya dapat nilai sempurna, tanpa mau tahu bagaimana proses untuk mencapainya. Mungkin inilah yang menyebabkan banyak terjadi kekacauan dalam masyarakat kita, karena ternyata selama ini kita telah terjebak untuk mencapai hasil tertentu tanpa mau memikirkan dan bersusah payah menjalani sebuah proses. Lihatlah seorang pencuri, dia hanya ingin mendapat hasil curian instant tanpa memikirkan proses yang halal untuk mendapatkan barang yang diinginkannya. Berbagai kejahatan lain pun memiliki modus operandi yang sama, ingin mendapatkan sesuatu melalui jalan pintas, bukan memilih prosedur yang halal!
Pemikiran ini membuat saya ketakutan sendiri, bagaimana bila anak saya menghalalkan segala cara hanya untuk mendapat nilai sempurna, sepuluh, untuk mendapat pujian dari ibunya? Bagaimana bila anak saya menerapkan semua pendidikan yang saya berikan ini untuk menjalani kehidupan seterusnya? Bagaimana bila dia sikut kiri sikut kanan hanya untuk mendapat jabatan? Dan seterusnya dan seterusnya….
Akhirnya saya memilih untuk merubah pola pendidikan. Saya tidak lagi menjanjikan sesuatu kepadanya yang hanya dapat diperolehnya jika dia menjadi juara I di kelas. Saya hanya menjelaskan bahwa dia harus belajar dengan baik, mulai dari membuat jadwal belajar, mengatur waktu antara bermain dan belajar, dan mematuhi aturan yang sudah kita sepakati bersama. Apabila proses itu telah berjalan dengan baik, apapun hasilnya dia akan mendapat hadiah. Bahkan saya menambahkan bahwa saya tidak akan peduli dengan hasil rapornya, malah kalau perlu saya tidak usah mengambil rapornya di sekolah asalkan dia telah menjalani proses dengan baik.
Ternyata dengan pola seperti ini, hasil belajar anak menjadi semakin baik. Hasil positif lainnya adalah dia menjadi semakin percaya diri, karena apa yang dipelajari di sekolah sudah terlebih dahulu dia baca di rumah. Saya juga menepati janji dengan memberikan hadiah jauh sebelum pembagian rapor tiba. Dan ketika pembagian rapor, prestasi anak ternyata jauh meningkat (walaupun sekolah anak saya tidak menerapkan sistem ranking di kelas, karena mereka menerapkan sistem setiap anak memiki kecerdasan yang berbeda/ multiple intelligent). Saya juga belajar untuk tidak lagi fokus pada kesalahan-kesalahan yang dibuat pada saat ujian melainkan memuji hasil baik yang sudah dicapainya.
Mudah-mudahan anak-anak menjadi anak-anak yang menghargai sebuah proses, sehingga mereka tidak akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Semoga generasi mereka kelak akan menjadi generasi emas yang akan memberikan manfaat dan kebaikan kepada orang banyak. Amin!
Sampai tiba saatnya saya mendapat kesadaran bahwa saya, dan mungkin sebagian besar dari kita sangat mementingkan hasil daripada sebuah proses. Saya hanya ingin anak saya dapat nilai sempurna, tanpa mau tahu bagaimana proses untuk mencapainya. Mungkin inilah yang menyebabkan banyak terjadi kekacauan dalam masyarakat kita, karena ternyata selama ini kita telah terjebak untuk mencapai hasil tertentu tanpa mau memikirkan dan bersusah payah menjalani sebuah proses. Lihatlah seorang pencuri, dia hanya ingin mendapat hasil curian instant tanpa memikirkan proses yang halal untuk mendapatkan barang yang diinginkannya. Berbagai kejahatan lain pun memiliki modus operandi yang sama, ingin mendapatkan sesuatu melalui jalan pintas, bukan memilih prosedur yang halal!
Pemikiran ini membuat saya ketakutan sendiri, bagaimana bila anak saya menghalalkan segala cara hanya untuk mendapat nilai sempurna, sepuluh, untuk mendapat pujian dari ibunya? Bagaimana bila anak saya menerapkan semua pendidikan yang saya berikan ini untuk menjalani kehidupan seterusnya? Bagaimana bila dia sikut kiri sikut kanan hanya untuk mendapat jabatan? Dan seterusnya dan seterusnya….
Akhirnya saya memilih untuk merubah pola pendidikan. Saya tidak lagi menjanjikan sesuatu kepadanya yang hanya dapat diperolehnya jika dia menjadi juara I di kelas. Saya hanya menjelaskan bahwa dia harus belajar dengan baik, mulai dari membuat jadwal belajar, mengatur waktu antara bermain dan belajar, dan mematuhi aturan yang sudah kita sepakati bersama. Apabila proses itu telah berjalan dengan baik, apapun hasilnya dia akan mendapat hadiah. Bahkan saya menambahkan bahwa saya tidak akan peduli dengan hasil rapornya, malah kalau perlu saya tidak usah mengambil rapornya di sekolah asalkan dia telah menjalani proses dengan baik.
Ternyata dengan pola seperti ini, hasil belajar anak menjadi semakin baik. Hasil positif lainnya adalah dia menjadi semakin percaya diri, karena apa yang dipelajari di sekolah sudah terlebih dahulu dia baca di rumah. Saya juga menepati janji dengan memberikan hadiah jauh sebelum pembagian rapor tiba. Dan ketika pembagian rapor, prestasi anak ternyata jauh meningkat (walaupun sekolah anak saya tidak menerapkan sistem ranking di kelas, karena mereka menerapkan sistem setiap anak memiki kecerdasan yang berbeda/ multiple intelligent). Saya juga belajar untuk tidak lagi fokus pada kesalahan-kesalahan yang dibuat pada saat ujian melainkan memuji hasil baik yang sudah dicapainya.
Mudah-mudahan anak-anak menjadi anak-anak yang menghargai sebuah proses, sehingga mereka tidak akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Semoga generasi mereka kelak akan menjadi generasi emas yang akan memberikan manfaat dan kebaikan kepada orang banyak. Amin!
Langganan:
Postingan (Atom)