14 Juli 2008

I HAVE A DREAM

I HAVE A DREAM


Kalau Martin Luther King bisa bermimpi tentang persamaan hak antara kaum kulit hitam dan kulit putih di Amerika, maka saya juga ingin bermimpi tentang hak-hak kaum wanita dan anak-anak di negri ini.
Jika pidato Martin Luther King yang berjudul I Have a Dream pada tahun 1963 ini menjadi bacaan wajib anak-anak sekolah di Amerika, maka saya tidak bermimpi agar mimpi saya ini menjadi bacaan wajib siapa pun juga.
Namun,sebagai seorang ibu, saya bermimpi seandainya di setiap kantor pemerintahan, kantor perusahaan, pabrik, atau kantor apapun juga yang memiliki karyawan wanita, memiliki gedung pendamping yang layak untuk penitipan anak dan bayi, lengkap dengan sarana air bersih, pengasuh yang kompeten, dan fasilitas kesehatan, sehingga tidak ada lagi anak-anak atau bayi yang terpaksa disapih karena sang ibu harus bekerja. Tidak ada lagi hal-hal absurd, seperti slogan pemerintah yang menghendaki bayi mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan, padahal aturan pemerintah sendiri yang hanya memberikan cuti melahirkan selama 3 bulan.
Saya bermimpi ibu-ibu pekerja datang ke tempat kerja menggendong bayi-bayi yang montok dan sehat karena mendapat ASI yang cukup, mendapat imunisasi yang terjadwal, mendapat perawatan yang memadai, dan tetap mendapat perhatian dan kasih sayang dari ibu kandung mereka. Saya bermimpi ibu-ibu pekerja dapat bekerja dengan nyaman karena buah hati mereka terawat dengan baik dan dapat mereka jenguk dan diberi ASI di sela-sela waktu istirahat. Saya bermimpi ibu-ibu pekerja pulang bekerja sambil menggendong bayi-bayi montok yang tertidur lelap dan tersenyum bahagia dalam dekapan hangat dada ibu mereka.Adakah perusahaan yang bisa mewujudkan mimpi saya? Atau adakah instansi pemerintah yang bersedia menjadi pionir sebagai instansi yang peduli terhadap masalah ini? Ataukah masalah kesejahteraan batin ibu dan anak tidak dianggap penting lagi? Apakah tindakan membahagiakan ibu dan anak dianggap suatu tindakan pemborosan biaya semata? Tapi coba dilihat dari sudut pandang yang lain. Seandainya pemberian ASI eksklusif tidak hanya sekedar slogan semata, tapi benar-benar dihayati dan didukung oleh semua pihak, berapa milyar dana pembelian susu formula yang dapat dihemat? Berapa besar dana yang tak perlu keluar sia-sia untuk perawatan bayi-bayi yang terkena infeksi saluran pencernaan akibat penyiapan susu formula yang tidak hygienis? Hal yang tidak perlu terjadi jika bayi-bayi mendapat ASI.
Biaya pembangunan sarana dan prasarana perawatan bayi dan anak tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan peningkatan produktivitas ibu-ibu pekerja dan perkembangan fisik dan mental yang sehat dari bayi-bayi yang akan menjadi generasi penerus bangsa ini.
Saya bermimpi bahwa di negri ini, di setiap lantai gedung perbelanjaan, di pasar, di taman hutan raya, di kebun binatang, dan di tempat-tempat umum lainnya tersedia ruang khusus untuk ibu dan bayinya. Di ruang ini tersedia tempat yang nyaman bagi seorang ibu untuk mengganti popok bayi, menyusui, dan menyuapi bayinya makan. Saya bermimpi seperti ini karena saya pernah melihat suatu negara yang telah melakukannya. Dan saya terkesima, alangkah indahnya penghormatan mereka terhadap eksistensi seorang ibu, alangkah indahnya cinta kasih mereka terhadap bayi dan anak-anak. Di setiap tempat umum, selalu tersedia 'nursery room'. Di sini ibu-ibu bebas menyusui bayinya, membersihkan popok, menyiapkan makanan dan beristirahat dengan bayinya. Ruang-ruang publik adalah ruang yang bersahabat bagi para ibu dan buah hatinya. Saya bermimpi, suatu saat di negeri yang berasaskan Pancasila ini, yang salah satu silanya adalah Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, paraibu, bayi, dan anak-anak benar-benar mendapatkan hak-hak manusiawi mereka.
Saya bermimpi, suatu saat di negeri ini, para wanita tidak dipandang dengan pandangan penuh mesum oleh para lelaki, karena wanita tidak membanggakan keindahan tubuhnya. Saya bermimpi, bahwa para lelaki di negeri ini sangat menghormati wanita karena mereka sangat menghormati ibu mereka yang telah membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang. Mereka menghargai wanita karena kecerdasan fikiran,kelembutan hati dan kepekaan perasaan mereka,sebagai penyeimbang rasionalitas fikiran dan kekuatan fisik laki-laki.
Saya bermimpi, generasi berikutnya di negeri ini adalah generasi yang santun dan penuh kasih, karena mereka dibesarkan dalam keluarga yang santun dan penuh kasih
Saya bermimpi , generasi penerus di negeri ini adalah generasi yang cerdas secara emosi dan spiritual, karena kebutuhan emosi dan spiritual mereka tercukupi dalam keluarga. Kecerdasan emosi dan spiritual ini lebih berharga untuk mengarungi kehidupan dan menghadapi berbagai persoalan bernegara.
Anehnya, saya tidak bermimpi tentang emansipasi, karena saya tidak paham tentang emansipasi yang sampai sekarangpun masih jadi kontroversi. Saya hanya bermimpi tentang indahnya negeri ini jika hak-hak wanita dan anak-anak dihargai. Alangkah indahnya masa depan bangsa ini jika generasi penerusnya adalah generasi yang tangguh, berakhlak mulia dan santun.
Saya bermimpi, tidak ada lagi tindakan anarki di negeri ini, karena kebutuhan kasih sayang telah tercukupi. Bukan, bukan materi yang harus dipenuhi. Wanita tidak identik dengan materi. Tapi wanita identik dengan kemampuannya untuk mengasihi, melindungi dan menentramkan hati. Karena kemampuan itulah Yang Maha Kuasa mempercayakan wanita untuk mengandung dan merawat bayi. Sungguh ini adalah anugerah tak terhingga buat seorang wanita.
Saya bermimpi, setiap suami di negeri ini bangga terhadap istrinya, karena para istri ini adalah wanita yang cerdas. Mereka memiliki ilmu pengetahuan yang luas karena telah menempuh pendidikan yang tinggi. Mereka bisa menjadi teman diskusi yang mengasyikkan, manajer rumah tangga yang andal, ibu yang sangat kompeten buat anak-anak dan kekasih yang penuh cinta dan kelembutan.
Saya bermimpi setiap wanita di negeri ini adalah wanita yang bebas dan bahagia. Bebas dalam arti mereka memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk belajar dan berkarir. Bahagia, karena mereka menyadari anugerah istimewa yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa sebagai seorang wanita, dan seluruh sistem dan subsistem dalam masyarakat menghargai dan menghormati hak-hak mereka sebagai seorang wanita termasuk terhadap anak-anak yang mereka lahirkan
Jika sudah demikian, angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka gizi buruk dan berbagai indikator kesehatan lain tak akan jadi masalah lagi. Tak perlu ada program Suami Siaga, Desa Siaga dan lain-lain, karena seluruh komponen dalam masyarakat telah siaga menjaga aset yang tak ternilai harganya, yaitu para wanita dan anak-anak. Saya bermimpi, jika semua wanita dan anak-anak di negeri ini berbahagia, maka seluruh bangsa juga ikut berbahagia.Memang saya hanya bermimpi, tapi bukankah segala sesuatunya berawal dari mimpi?
Bandung, 28 Maret 2008
Menjelang hari Kartini

Tidak ada komentar: