11 Agustus 2009

Nama Adalah Doa?



Nama adalah doa. Jadi kami sangat hati-hati memberi nama untuk anak-anak kami. Anak pertama kami namai Diaz Abdurrahman Yasik. Kami mendoakan dia menjadi anak yang pengasih dan penyayang, karena dia anak yang tertua. Kami mendoakan dia menjadi anak yang dapat mengayomi adik-adiknya. Alhamdulillah, Diaz tumbuh menjadi anak yang sayang pada adik-adiknya. Bukan cuma adik-adik kandungnya, adik-adik sepupunya semuanya sangat manja dengan Diaz. Dan semuanya sangat kehilangan kalau tidak ada Diaz. Anak ketiga kami namai Dylan Gimbar Yasik. Kami mendoakan dia menjadi pemimpin yang mampu menjalankan amanah dengan baik. Gimbar juga berarti orang yang dapat diandalkan, Insya Allah. Saat ini juga sudah mulai terlihat bahwa Dylan adalah anak yang penuh strategi, penuh inisiatif, dan tidak mau ketinggalan dalam situasi apapun, seolah-olah mau menunjukkan Dylan ada dan siap membantu!!
Anak kedua kami sangat istimewa. Kami namai IZDIHAR ABDURRAFI YASIK, dalam bahasa Inggris IZDIHAR berarti ADVANCE, kami mendoakan Diar (panggilan sayang kami untuknya) menjadi anak yang visioner dan selalu selangkah lebih maju. Ditambah dengan ABDURRAFI yang artinya orang yang berkedudukan tinggi, atau orang yang mulia. Dan alangkah ajaibnya doa yang dilantunkan oleh orang tua dari ketulusan dan kesungguhan hati.
Diar tumbuh menjadi anak yang sangat visioner. Mulai dari kemampuan bicara secara jelas dan fasih saat berusia 2 tahun, kemampuannya memberi solusi dan nasehat buat orang lain juga telah muncul saat dia masih balita. Semua famili yang pernah mengenal Diar sejak bayi pasti mengingat bagaimana anak balita ini mampu mengelola emosinya dengan baik, bahkan mampu berdiskusi dengan baik dengan orang tuanya. Kami tidak pernah mengalami kesulitan dengan Diar karena dia memaksa minta dibelikan mainan misalnya, atau mengamuk karena keinginannya tidak dipenuhi. Karena dengan ajaibnya dia mengerti alasan kenapa dia tidak harus selalu mendapatkan apa yang dia mau. Badannya juga cukup ‘berisi’ ( enggak tega mau bilang Diar gendut ). Rencana untuk memasukkan Diar selama 2 tahun di Taman Kanak-Kanak ternyata mengalami kemajuan, karena pada saat dimasukkan ke TK nol kecil, kemampuannya malah melebihi teman-temannya di TK nol besar. Kekhawatiran terlalu cepat memasukkannya ke SD membuat kami berkonsultasi dulu dengan psikolog. Ternyata hasil test psikologinya menyatakan Diar secara mental sangat siap untuk duduk di Sekolah Dasar.  
Hal sangat istimewa tentang Diar adalah kemampuannya berempati dengan orang lain. Pada saat pertama masuk SD, masih ada beberapa anak yang merasa kurang nyaman sehingga minta ditemani oleh orang tuanya. Bahkan ada anak yang menangis karena merasa takut. Pada saat anak-anak lain sibuk dengan dirinya masing-masing, aku melihat Diar sibuk menghampiri anak yang manangis. Dan nasehatnya pada anak itu membuatku tersenyum. Mau tau apa yang dia katakan?
“Jangan nangis…lihat tuh bu Gurunya baik-baik, dan kalau kamu nangis nanti enggak ganteng lagi lho..”Diar mengatakan ini sambil menyentuh pundak anak yang menangis itu. Wah, darimana datangnya inisiatif itu ya?...
Kemampuan bahasanya yang luar biasa itu membawa Diar sangat cepat memahami bacaan, bahkan kemampuan Bahasa Inggrisnya sangat meningkat. Berceritalah pada Diar dan dia akan menceritakan kembali dengan baik. Diar juga sangat suka bermain teka teki. Ada cerita lucu tentang teka teki ini. Pada saat TK, Diar yang sudah bisa membaca dengan baik dan sudah pasti dia mengenal huruf dengan baik juga. Nah pada suatu hari dia pulang sambil cemberut. Ketika ditanya, dia bilang kalau dia sebal dengan teman-temannya. Kenapa? Karena dia dengan bersemangat memberi suatu teka-teki pada teman-temannya. Teka tekinya begini: Kalau pagi-pagi ada di pinggir, kalau siang ada di tengah, dan kalau malam tidak ada, apakah itu?? Diar senang karena temannya tidak ada yang bisa menjawab, maka dengan semangat dia berteriak: JAWABANNYA HURUF i…!! Tapi teman-temannya malah bengong, karena sebagian besar dari mereka baru belajar mengenal huruf dan membaca. Ah, kasian Diar, teka tekinya terlalu canggih untuk anak TK….
Kemampuan Diar menghafal juga luar biasa. Surat-surat Alquran yang cukup panjang mampu dihafalnya dengan baik. Jika Diar jadi imam, maka dia akan memilih surat Abatsa, At Takwir, AnNaba…sebagai bacaan surat pendeknya, wah, ayah dan bundanya saja kesulitan untuk menghafal surat-surat ini.
Dan sekarang setiap kali menerima laporan hasil belajar dari sekolah, selain pujian tentang prestasi belajarnya yang baik, juga disertai dengan pujian bahwa Diar sangat istimewa karena pribadinya yang menyenangkan. Dan kalau sudah begitu, tidak ada lagi yang mampu kami ucapkan selain bersyukur. Kami tidak merasa perlu untuk menanyakan pada gurunya ranking berapa Diar di kelas. Kalau ada yang menanyakan hal itu, kami tidak ragu-ragu menjawab, DIAR RANKING PERTAMA! Karena bagi kami orang tuanya, kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial Diar sudah sangat memadai, ditambah dengan kecerdasan spiritual yang terus diasah, Insya Allah, sesuai nama yang kami berikan padanya, kami yakin Diar pada masanya nanti menjadi anak yang selalu lebih maju, mulia dan menjadi kebanggaan orang tuanya. Amin.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Artikelnya bagus2 mbak. Penuh hakikat dan inspirasi bagi kita kaum wanita. Keep posting mbak n sala kenal.
Nadia