15 Juli 2008

UJIAN DIAZ, UJIAN BUAT KAMI

UJIAN DIAZ, UJIAN BUAT KAMI
Pada saat anak-anak memasuki usia sekolah, saya dan suami berdiskusi untuk menetapkan tujuan pendidikan buat anak-anak kami. Setelah melewati perenungan dan diskusi panjang, akhirnya kami sepakat bahwa tujuan kami memberikan pendidikan buat anak-anak kami adalah untuk mencerdaskan emosi, spiritual, dan intelektual mereka. Maka, sekolah yang mengedepankan nilai-nilai spirital pun jadi pilihan utama. Walaupun jauh lebih mahal dari sekolah negeri, Diaz pun dimasukkan ke sekolah swasta yang menurut data dan survey yang kami lakukan cukup baik memberikan pendidikan spiritual.
Alhamdulillah, banyak sekali kemajuan yang kami lihat pada Diaz. Dari anak yang pemalu dan kurang percaya diri, Diaz tumbuh menjadi anak yang lebih berani berekspresi. Kemampuan membaca Alqurannya membaik, dan dia juga tidak pernah meninggalkan shalat. Berbagai sikap positif lain juga muncul. Diaz sangat penyayang pada adik-adiknya ( sesuai dengan doa kami yang memberinya nama Diaz Abdurrahman Yasik?), suka membantu kalau dimintai pertolongan dan sudah bisa diandalkan. Tanggung jawabnya sebagai anak paling tua pun sudah tumbuh. Nilai-nilainya untuk pelajaranpun cukup baik, walaupun Diaz tidak berada di posisi terbaik di kelasnya. Namun pihak sekolah memang tidak menganut sistem ranking di kelas, karena mereka sangat percaya bahwa setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Dengan kata lain anak-anak memiliki multiple intelligent.
Menjelang kelas 6, timbul keinginan untuk memberikan les tambahan pada Diaz, mengingat sebentar lagi dia akan menghadapi ujian. Namun pihak sekolah sangat tidak menganjurkan les, karena mereka beranggapan bahwa les hanya akan menambah beban anak. Kami pun mengikuti saran tersebut, karena Diaz juga tidak antusias mengikuti les. Kami hanya memberikan jadwal belajar di rumah, yaitu mulai dari habis magrib sampai jam 8 malam.
Ketika pendaftaran di SMP unggulan sudah dibuka, kami dengan antusias mendaftarkan Diaz ke SMP unggulan tersebut. Pertimbangan kami adalah selain berstatus SMP Negri yang tentu saja lebih murah, programnya pun pasti baik karena sudah berstandar internasional. Kami optimis Diaz diterima, karena menurut kami Diaz anak yang cerdas. Setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan, mulai dari mengurus syarat-syarat pendaftaran, mempersiapkan ujian, mengantarkan Diaz ujian dan akhirnya menanti dalam antrian panjang berjam-jam untuk mengambil pengumuman, ternyata Diaz tidak lulus!!!
Seperti mimpi rasanya melihat kertas putih yang bertuliskan Diaz tidak diterima. Bukan itu saja, nilainya pun hanya 53 dari minimal 62. Padahal saat menjelang mendapatkan amplop putih itu, aku sempat berdoa, ”Ya Allah, kalau memang sekolah ini yang terbaik buat Diaz, tolong dia diterima, tapi kalau menurut-Mu ini bukan yang terbaik buat Diaz, tolong jangan diterima. Karena hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui.” Jadi, aku pun mulai menyiapkan hati untuk mendapat hasil yang terburuk menurut pandanganku sebagai manusia.
Namun, ternyata tidak semudah yang diucapkan. Mendapati kenyataan bahwa anak kebanggaan kami tidak diterima di sekolah unggulan, cukup membuat kami terpukul. Suamikupun tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Hari itu menjadi hari yang berat buat kami. Diaz pun tak kalah kecewanya. Dia menangis tersedu-sedu. Malu, katanya, karena semua teman-temannya beranggapan dia pasti diterima.
Akhirnya berbagai analisis pun dilakukan. Menurut suamiku, Diaz tidak belajar secara optimal. Dia masih senang bermain bola, menonton televisi, bahkan berjam-jam main game di komputer. Kalau menurut Diaz, sudah takdirnya dia tidak diterima. Namun persepsi tentang takdirpun jadi perdebatan seru. Apa sih sebenarnya takdir itu?? Bukankah baru bisa disebut takdir kalau didahului oleh usaha yang optimal dan doa maksimal??
Masalahnya bukan hanya Diaz tidak diterima di SMP unggulan. Masalahnya meluas menjadi masalah tergoresnya harga diri kami sebagai orang tua. Suamiku selalu mendapat peringkat teratas saat bersekolah, mulai dari SD sampai SMA. Saat lulus kuliah pun suami tetap masuk ke dalam jajaran top ten. Aku pun rasanya tidak pernah mendapat kesulitan berarti untuk masuk sekolah unggulan. Mulai dari SD sampai SMA, aku selalu mendapat peringkat yang bagus. Kuliah di Fakultas Kedokteranpun aku jalani dengan baik. Pada saat di jenjang S-2 , aku lulus dengan cum laude. Lalu, apa yang salah dengan anak kami?
Pada saat menjelang UASBN, Diazpun mendapat tekanan lebih berat, karena kami ingin dia menebus kegagalannya di ujian masuk SMP unggulan. Namun ternyata nilai UASBNnya pun ’biasa-biasa’ saja, alias rata-rata. Hanya 24,05 dari 3 mata pelajaran. Dan ada sekitar 2000 anak SD se-Bandung yang mendapat nilai di kisaran itu. Sementara anak-anak dari SD Negeri di sekitar kami banyak yang mendapat nilai 25 ke atas. Pukulan kedua buat kami!!
Mencari SMP yang kami anggap baikpun ternyata harus melalui perjuangan yang cukup berat. Kami sepakat untuk menyekolahkan Diaz di SMP Negeri, dengan pemikiran sudah saatnya Diaz membuka wawasan lebih luas, dan sekolah negeri akan semakin baik dengan adanya program-program pemerintah yang semakin peduli pendidikan, satu lagi, biayanya pasti lebih murah! Namun, setelah setiap hari membuka internet untuk memantau PSB-online, ternyata Diaz tergusur lagi dari SMP negri cluster-1 yang menjadi pilihan pertamanya. Bukan karena nilai UASBNnya kurang, namun karena kuota untuk anak luar kota yang dibatasi hanya 10%. Diaz terdaftar sebagai peserta dari luar kota karena madrasahnya terletak di Cimahi. Celakanya anak-anak luar kota yang mendaftar di SMP Negeri tersebut adalah anak-anak yang nilainya di atas 25,00. Lagi-lagi kami terpukul.
Sebenarnya apa yang salah? Apakah kami yang masih arogan, tidak bisa menerima kenyataan jika memang anak kami kalah bersaing? Hal yang sama sekali tidak pernah dialami orang tuanya? Tapi, apakah bijaksana membandingkan anak dan orang tua? Bukankah mereka hidup di jaman yang berbeda dengan tantangan yang berbeda pula?
Ternyata setelah beberapa waktu berlalu, kami lupa akan tujuan kami semula dalam menetapkan tujuan pendidikan buat anak-anak kami. Sistem pendidikan pun masih mengacu pada satu indikator saja untuk menentukan keberhasilan pendidikan seorang anak. NILAI AKADEMIK!! Hanya itu. Anak-anak hanya diberi predikat berdasarkan nilai akademik yang diperolehnya. Dan untuk tahun ini nilai itu adalah Bahasa Indonesia, Matematika dan Sains!
Sebenarnya, para pakar pendidikan sudah mengupayakan jalur lain bagi anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan seperti jalur prestasi. Namun anak kami belum memiliki prestasi lain yang bisa dibanggakan. Memang dia jago main bola, main futsal, renang, basket dan bulu tangkis. Namun kami hanya menganggap itu sebagai sarana untuk meningkatkan fisiknya, bukan untuk meraih prestasi khusus. Bahkan aku sempat menelepon guru olahraganya untuk mengeluarkannya dari tim futsal sekolah, karena aku tidak ingin pelajarannya terganggu akibat terlampau sering bertanding di saat jam sekolah.
Akhirnya Diaz diterima di SMPN 15 Bandung, namun dia kecewa melihat sekolah dengan lapangan olahraga yang minim tersebut. Sebagai alternatif, Diaz didaftarkan di SMP Labschool yang terletak di kompleks Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Berbagai pergulatan pun hadir di hati kami, kemana kami harus menyekolahkan Diaz? Ke SMP Negeri 15 atau ke Labschool UPI?
Tanyakan pada anak yang akan menjalani, maka Diaz akan menjawab labschool. Tapi sebagian lagi menyatakan bahwa SMP 15 pun adalah SMP favorit. Sehingga kami selaku orang tuanya menjadi semakin bingung. Akhirnya ada jawaban dari satu orang yang membuat kami membulatkan tekad untuk menyekolahkan Diaz di Labschool.
Jawaban itu mengingatkan kami pada tujuan pendidikan yang telah kami tetapkan sebelumnya, bahwa pendidikan bukan melulu berisi kemampuan akademik. Dan Diaz adalah anak laki-laki yang beranjak remaja. Distraksinya sangat besar, mulai dari televisi, komputer, game, handphone, dan lain-lain. Energinya juga besar. Salah satu penyaluran energinya adalah dengan berolahraga. Rumah kami selalu dijadikan ajang olah raga, mulai dari sepakbola, bulu tangkis, sepatu roda, dan lain-lain. Berapa kali lampu pecah, pigura jatuh, pot kembang yang tidak berbentuk lagi, semua menjadi bukti pelampiasan energinya yang meledak-ledak. Diaz harus mendapatkan sekolah yang mampu mengakomodir pelampiasan energinya. Dan labschool kami anggap dapat mengatasi masalah ini. Kami ngeri membayangkan anak kami yang tidak dapat menyalurkan energinya.
Untuk mengatasi masalah akademik, kami bertekad untuk lebih proaktif, misalnya dengan memanggil guru privat. Bakat seninya pun akan kami asah dengan memberikan les gitar. Creating value tetap kami utamakan. Mudah-mudahan kami diberikan kemampuan untuk mendengar lebih baik, karena selama ini kami hanya ingin didengarkan tanpa kemampuan mendengar yang baik.
Diaz boleh bangga akan sekolahnya, namun kami bertekad, sekolahnyalah yang akan sangat bangga karena Diaz bersekolah di sana. Kami berniat menutup telinga terhadap komentar-komentar mengenai sekolah unggulan, sekolah favorit, sekolah berstandar internasional, dan lain-lain. Pendidikan anak bukan cuma tanggungjawab sekolah, pendidikan dalam keluargalah yang paling penting. Pendidikan anak kami sebagian besar adalah tanggung jawab kami. Karena kamilah nanti yang akan ditanya oleh Yang Maha Kuasa bagaimana kami mendidik amanah yang dititipkan pada kami.
Sekarang kami berdoa, semoga kami selalu diberi kekuatan dan hidayah untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak kami. Kami menganggarkan dana tak terbatas untuk anggaran pendidikan. Bahkan kalau perlu kacamatapun dijual (saking pentingnya pendidikan menurut suamiku). Dan sekali lagi, pendidikan bukan cuma akademik, pendidikan meliputi segala aspeknya, mulai dari sikap, perilaku, emosi, dan spiritualitas.
Jadi, mari para orang tua, lupakan sejenak kekecewaan kita karena anak kita tidak diterima di sekolah favorit, unggulan, atau apapun itu. Ayo kita rancang sendiri kurikulum pendidikan untuk anak kita. Jangan terpaku pada pendidikan di sekolah semata. Kita rancang kurikulum yang paripurna untuk menciptakan generasi emas di masa depan, generasi yang santun, cerdas secara emosi dan spiritual. Nilai akademik? Ah, itu bisa menyusul...............


Di ruang kantor yang dingin di Cimahi
Tulisan ini selesai tanggal 15 Juli 2008
Diaz saat ini sedang menjalani MOS (masa orientasi siswa) hari ke-2 di kelas 7 Labschool UPI.

0 komentar: